Sponsor vs Mentor

Sponsor vs Mentor

Artikel di Majalah Fortune edisi 12 Mei 2012 bercerita tentang Barbara Adachi, Kepala Divisi Human Capital di Deloitte Consulting. Barbara dikenal sebagai pekerja keras. Tetapi, ternyata bukan hanya kegigihannya yang membawa dia pada posisinya sekarang.

Sebelas tahun silam, Mike Fucci, partner di firma tersebut, menawari Barbara naik ke jabatanmanagement. Waktu itu, perempuan tersebut ragu, merasa belum siap. Tetapi, Fucci meyakinkan Barbara bahwa ia akan mengajari dan membimbing Barbara untuk sukses dalam berkarir.

“Dengan memberi kesempatan dan merekomendasikan saya untuk jabatan tersebut, ia mempertaruhkan reputasinya,” kenang Barbara. “Saya kini loyal padanya.”

Cerita Barbara mengilustrasikan pergeseran di dunia karir. Sebelum ini, kita dianjurkan untuk memiliki mentor—seseorang yang akan men-coach kita, memberi nasehat, dan mempersiapkan kita untuk duduk pada posisi berikutnya. Mike Fucci bukan mentor. Dia seorang sponsor. Dia tak hanya membimbing, tetapi juga berani mempromosikan.

Sponsor memperkenalkan Anda dengan orang-orang yang tepat agar karir Anda melesat. “Seorang mentor akan berbicara DENGAN Anda. Seorang sponsor akan berbicara TENTANG Anda,” kata Heather Foust-Cummings, Senior Director of Research di Catalyst, lembaga yang melakukan penelitian mengenai peran sponsor.

Peran sponsor diyakini berpengaruh besar dalam mengembangkan kepemimpinan perempuan di perusahaan. Penelitian Harvard Business Review pada 2010 menunjukkan bahwa 13% dari profesional perempuan memiliki sponsor. Mereka ternyata lebih sukses dalam menegosiasikan kompensasi dan mendapatkan kenaikan jabatan, bahkan dalam menuju posisi puncak.

Penelitian lain menunjukkan semakin banyak perusahaan mempromosikan sistem sponsorship. Belum lama ini, Unilever menyelenggarakan sesi tatap muka untuk membuka peluang sponsorship di kalangan pegawainya. Sementara itu, Deloitte, PepsiCo, Intel, dan American Express mengambangkan program khusus untuk membantu para pekerja perempuan mendapatkan sponsor.

Ramona Cappello, CEO dari Corazonas Foods, mengenang masa-masa awal karirnya. Ketika ia diterima di Harvard Business School, seorang senior bernama Timm Crull memintanya untuk menunda mengambil kesempatan tersebut untuk setahun. Lelaki itu berjanji Ramona akan mendapat ilmu yang sangat berguna jika mau bertahan di perusahaan.

Ramona itu mengikuti saran tersebut, dan karirnya memang melesat. Pada dekade 1990-an, ia menjadi Asisten General Manager Nestle. Lalu, ia diangkat sebagai VP di Celestial Seasonings dan kemudian menjadi Executive Vice President di Kendall-Jackson. Timm Crull sendiri kemudian menjadi orang yang sangat berpengaruh, CEO dari Nestle USA.

“Sesungguhnya, sayalah yang ditemukan (Crull),” kata Ramona. “Dia memastikan saya mendapat posisi-posisi yang semestinya.”

Gambar: www.shenegotiates.com

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinmail

Tinggalkan balasan

Email Anda tidak akan ditampilkan. Required fields are marked *

*

Scroll To Top