Tri Rismaharini


Tri Rismaharini lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 20 November 1961. Risma adalah perempuan pertama yang terpilih sebagai Wali Kota Surabaya sepanjang sejarah kota tersebut, sekaligus menjadi perempuan pertama yang terpilih secara langsung menjadi kepala daerah untuk wilayah kota sepanjang sejarah demokrasi Indonesia pasca-Reformasi 1998.

Meski berasal dari keluarga asli Surabaya, Risma “numpang” lahir dan dibesarkan di Kediri, setidaknya sampai lulus sekolah dasar. Risma adalah anak ketiga dari lima bersaudara pasangan M. Chuzaini dan Siti Mudjiatun.

Ayahnya merupakan pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja di kantor pajak, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Di sela-sela kesibukan sebagai PNS, ayah Risma memiliki usaha sampingan, salah satunya sebagai pemasok sembako.

Sejak SD, Risma sudah membantu orangtua mengelola toko, misalnya membantu pencatatan barang masuk dan keluar atau mengantarkan barang ke pelanggan. Setiap bulan, Risma mendapatkan “gaji” karena usahanya membantu orangtua. Tak heran jika saat masih berseragam putih-merah pun Risma sudah mampu membeli sepeda mini dengan uang hasil tabungan sendiri.

Berkat keseriusannya, Risma sudah mampu menjadi pelatih tari saat masih duduk di kelas 3 SD. “Murid” tarinya adalah kakak-kakak kelasnya. Dia juga kerap mendapatkan undangan menari di wilayah Kediri dan sekitarnya, terutama saat 17 Agustusan. Saat keluarganya pindah ke Surabaya, Risma tak lagi memilih kegiatan ekstra kurikuler menari. Siswi kelas 2 SMP Negeri 10 Surabaya itu justru memilih ekskul atletik, khususnya lari cepat.

Lagi-lagi, berkat keseriusan berlatih, Risma sempat menjadi pelari cepat (sprinter) andalan Kota Surabaya. Risma berada di ranking ke-2, di bawah prestasi atlet lari Pelatnas era 1970-an Henny Maspaitella, yang kini masih aktif menjadi pelatih atletik di Surabaya.

Lulus SMA, Risma mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SIPENMARU) untuk Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Dia lolos. Tetapi, orangtua tidak menyetujui pilihannya. Ayah Risma sedang sakit. Kondisi ekonomi keluarga sedang berat. Ayahnya menyarankan Risma untuk mengambil jurusan arsitek, dengan pertimbangan agar bisa segera mendapat pekerjaan setelah lulus. Akhirnya Risma mengalihkan pilihan ke Fakultas Teknik Arsitektur Insitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Kelak, pilihan studinya menjadi bekal Risma memasuki dunia birokrasi yang mengantarkannya menjadi Wali Kota Surabaya.

 

Beberapa kutipan dari Tri Rismaharini pada buku Perempuan Pemimpin:

“Saya merasa menjadi pemimpin itu berat pertanggungjawabannya. Ini bukan semata amanah dari masyarakat, tetapi juga amanah dari Tuhan”

“Ketika saya merasa ada orang yang berusaha menjatuhkan, saya hanya akan mengingat tujuan saya. Semua yang saya lakukan adalah untuk masyarakat, bukan untuk diri saya sendiri. Kesadaran ini  member kekuatan kepada saya”

 

Silakan kunjungi halaman Perempuan Pemimpin untuk melihat Sinopsis
Buku Perempuan Pemimpin dapat dibeli online di QB Bookstore
Scroll To Top