5 KIAT MENYAMPAIKAN IDE & MENDAPAT DUKUNGAN 17 June 2020 – Posted in: Bagi Pengalaman, Ide, Inspirasi, Tips – Tags: , , , , ,

By: Betti Alisjahbana

Di pekerjaan, dalam keluarga, di masyarakat, kemampuan menyampaikan ide dengan efektif agar mendapat dukungan sangat penting untuk sukses. Tanpa dukungan yang diperlukan, ide bisa jadi tinggal ide tanpa pelaksanaan.

Di pekerjaan agar ide bisa dilaksanakan kita butuh dukungan atasan, rekan sejawat, dan anggota team. Demikian pula di masyarakat dan keluarga, sering kita punya ide yang membutuhkan dukungan dalam pelaksanaannya. Kemampuan kita menyampaikan ide sehingga mendapatkan dukungan, karenanya sangat menentukan keberhasilan.

Menyampaikan ide agar mendapatkan dukungan perlu strategi penyampaian. Ada 3 komponen kunci dalam penyampaian suatu ide, yaitu : 1. Anda sebagai pihak yang memiliki ide, 2. ide yang ingin Anda sampaikan untuk mendapatkan dukungan, 3. audiens, yaitu pihak yang akan Anda ajak untuk mendukung ide Anda. Audiens ini bisa Atasan Anda, rekan sejawat atau team Anda. Bisa juga dalam keluarga, seperti pasangan, anak, mertua. Atau dikehidupan sosial, Anda butuh dukungan teman, organisasi tertentu atau publik secara luas.

Audiens Anda punya banyak hal yang perlu diperhatikan, bukan hanya Anda. Ini menjelaskan mengapa menyampaikan ide/gagasan dan mendapatkan dukungan tidaklah mudah. Dibutuhkan upaya khusus agar ide Anda dapat diterima dan didukung dengan baik.

Berikut ini adalah beberapa kiat yang bisa membantu :

1. Story Telling (bercerita)

Ketika kecil kita selalu mendengarkan cerita. Banyak pesan jadi mudah ditangkap melalui cerita. Dan kita lebih tertarik mendengarkan cerita dibandingkan mendengarkan presentasi yang hanya menampilkan fakta dan data. Cerita bukan hanya menarik sebagai hiburan. Pada kenyataannya, bercerita adalah ketrampilan yang bila digunakan secara efektif bisa meningkatkan keberhasilan, seperti mingkatkan loyalitas pelanggan, membuat strategi marketing yang ampuh, membuat tim lebih tergugah untuk terlibat dll. Angka dan fakta berbicara pada pikiran kita, sementara cerita berbicara pada hati kita. Cerita yang menarik bisa secara bersamaan mengaktifkan emosi dan berbagai indra kita.

2. Cerita yang baik dimulai dari dunia audiens

Cerita harus sesuai dengan audiensnya. Sesuatu yang menarik untuk satu kelompok bisa jadi tidak menarik bagi yang lain. Karenanya, cerita yang baik dimulai dari dunia audiens untuk menghubungkan ide Anda dengan dunia audiens. Untuk itu kita perlu memahami siapa audiens nya, apa yang sedang menjadi perhatiannya, apa tantangan yang saat ini sedang dihadapinya. Apa yang mereka inginkan. Apa yang mereka butuhkan. Dengan memahami audiens, Anda bisa membuat cerita yang bergema dengan audiens itu sehingga Anda bisa mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

Pada tahun 2012-2014 saya adalah komisaris independen di Garuda Indonesia. Saat itu kegiatan CSR garuda adalah membina pengrajin dan UKM dibidang tenun. Suatu saat ketika saya sedang berlibur di Bali, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke salah satu UKM tersebut. Saya memperhatikan kain tenun yang mereka buat, dan terpikat pada salah satu yang menurut saya sangat menarik. Ketika saya tanyakan harganya, ternyata cukup mahal, jutaan rupiah. Ibu pen jualnya, memperhatikan saya, kemudian bercerita bahwa kain tenun yang sedang saya pegang itu memang sangat istimewa, pembuatannya membutuhkan waktu 4 bulan, dimulai dengan pemintalan benang, perwarnaan, dan kemudian ditenun. Desainnya, menurut ibu itu, merupakan kreasi baru yang dibuat dengan bimbingan dari desainer yang diperbantukan oleh Garuda. Ibu ini bercerita lebih lanjut bahwa pengrajin di desanya, yaitu di Sidemen kabupaten Karangasem, sempat tidak semangat lagi menenun, karena hasil karya tenun yang berbulan-bulan proses nya itu tidak dihargai dengan harga yang sesuai oleh para turis. Tetapi setelah mendapatka dukungan desainer, bimbingan cara pewarnaan, di promosikan pula dengan fashion show diacara bergensi, maka kain tenun ini bisa dijual dengan harga yang baik. Sekarang para pengrajin di desanya jadi semangat lagi menenun. Dan tradisi turun temurun ini terus berlanjut.

Mendengar cerita proses pembuatan, soal pengrajin yang bekerja selama 4 bulan untuk menghasilkan karya tenun yang indah, dan bagaimana sekarang para pengrajin semangat lagi menenun karena hasil karyanya dihargai dengan baik, membuat saya melihat kain tenun dengan cara yang berbeda, ada penghargaan yang lebih dan sayapun tidak segan membelinya dengan harga yang tinggi. Dan setelah membelinya, saya merasa bahagia membayangkan bahagianya pengrajinnya yang jerih payahnya dihargai. Ini adalah contoh kekuatan sebuah cerita.

3. Bangkitkan keinginan audiens untuk menerima ide Anda

Untuk mendapatkan dukungan, Anda perlu melihat ide ini dari sudut pandang audiens. Audiens akan mendukung apabila mereka melihat manfaat menerima ide kita, karenanya kita perlu memikirikan manfaat tersebut dan menyampaikannya.

Almarhum Ibu saya adalah penderita diabetes sejak umurnya 40 tahun. Ketika ayah saya meninggal saya mengajak ibu untuk tinggal bersama kami di Jakarta. Sebelumnya beliau tinggal di Jogja. Saya lalu mencarikan dokter yang baik untuk berkonsultasi dan merawat ibu saya agar diabetesnya terkontrol. Atas rekomendasi berbagai pihak, saya membawa ibu ke dokter Okky di klinik Aidtya. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, dokter Okky yang sangat ramah dan menyenangkan itu menyanyakan pola makan ibu saya. Ibu saya pandai masak dan adalah penikmat makanan. Makanan yang disukainya banyak diantaranya makanan yang manis-manis. Pola makan ibu saya pada waktu itu tidak pas untuk seorang penderita diabetes.

Setelah mendengan kebiasaan makan ibu saya, dokter Okky lalu bercerita tentang salad jepang yang sangat disukainya, katanya membuatnya sangat mudah dan rasanya enak. Selain menceritakan bagaimana membuatnya, beliau juga menyampaikan dimana bisa dibeli bahan-bahannya. Dokter juga menyampaikan bahwa selain enak, dan mudah dibuat, salah ini cocok untuk penderita diabetes. Ibu terlihat sangat tertarik mendengar cerita dokter soal salad jepang dan cara membuatnya. Beliau sangat bersemangat untuk mencoba membuat salad itu. Begitu keluar dari klinik, ia minta untuk langsung diantar ke supermarket untuk membeli bahan-bahan salad dan langsung membuatnya. Sejak itu pola makan ibu saya berubah, memilih makanan yang enak dan sehat yang cocok untuk penderita diabetes. Pendekatan dokter Okky yang membangkitkan keinginan ibu saya untuk makan sehat sangat efektif.

4. Singkirkan hambatan

Antisipasi hambatan yang akan dihadapai audiens didalam menerima ide Anda. Atasi hambatan itu. Ini akan memudahkan audiens Anda didalam menerima dan mendukung ide Anda.

Pada tahun 1995 saya di promosikan untuk menjadi General Manager-General Business, yaitu unit bisnis di IBM yang bertugas menangani klien UKM. IBM pada saat itu sebagian besar pendapatannya berasal dari pelanggan-pelanggan korporasi besar dan dari pemerintahan. Bisnis dari UKM masih kecil porsinya, dan tugas saya adalah menumbuhkan bisnis di segmen UKM tersebut. Strategi bisnis saya susun bersama tim, mencakup menentukan di segmen mana saja yang akan disasar, membangun kemitraan dengan para software developer dan distributor, serta membuat program marketing campaign untuk mengasilkan prospek bisnis untuk digarap oleh para distributor dan software developer tersebut. Anggaran untuk marketing campaign ini belum ada, sehingga saya harus meminta dukungan dari atasan saya. Meminta anggaran tambahan di tengah tahun tidak mudah, sehingga saya sudah mengantisipasi bahwa akan banyak pertanyaan dan mungkin penolakan. Pada saat yang sama saya tau bahwa atasan saya masih punya gap pendapatan untuk mencapai kuota akhir tahunnya. Jadi saya berpikir, kalau saya bisa meyakinkan atasan saya bahwa program yang kami rancang ini bisa membantu menutup gap tersebut, akan lebih mudah bagi atasan untuk mengalokasikan anggaran untuk mendukung marketing campaign yang kami rancang. Dengan mengantisipasi hambatan dan menyiapkan jawaban untuk menyingkirkan hambatan tersebut saya berhasil mendapatkan anggaran yang dibutuhkan untuk menjalankan strategi pemasaran yang telah disusun.

5. Apresiasi

Dukungan yang telah didapat perlu dipresiasi. Buat audiens Anda merasakan senang telah memberikan dukungan kepada Anda.
Menuruskan contoh dukungan atasan saya yang memberikan anggaran untuk marketing campain, saya menyampaikan terimakasih dengan penuh antusias. Tidak berhenti disitu, setiap kemajuan selalu saya laporkan, dan saya bersama tim menjalankan strategi dengan penuh semangat dan kerja keras, agar kepercayaan yang telah diberikan kepada kami memberikan hasil yang maksimal. Dan ketika sukses dicapai tidak lupa kami menyampaikan bahwa semua ini tidak mungkin tercapai tanpa dukungan dari atasan. Ini membuat atasan senang dan untuk selanjutnya bersemangat mendukung lagi.

Itu tadi lima kiat menyampaikan ide untuk mendapat dukungan. Hampir setiap inisiatif membutuhkan dukungan dari orang lain. Ide yang hebat perlu disampaikan dengan hebat pula untuk mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Untuk itu perlu dibangun cerita yang menggugah, bukan hanya angka dan fakta saja. Cerita yang menggugah dimulai dari dunia audiens kita untuk menghubungkan ide dan gagasan dengan dunia audiens. Bangkitkan keinginan audiens untuk mendukung gagasan Anda. Antisipasi dan singkirkan hambatan sehingga lebih mudah bagi audiens untuk memberikan dukungannya. Dan jangan lupa berikan apresiasi. Tunjukan betapa berharganya dukungan dari audiens, buat mereka senang telah mendukung Anda.

 

Salam hangat penuh semangat